Pendidikan Islami Dalam Membentuk Karakter Anak Sholeh

Pendidikan Islami secara luas punya makna yang selaras dengan At-Tarbiyah, yakni sebuah proses pembelajaran yang akan menghasilkan kondisi yang lebih baik dari hari ke hari. Mengutip pernyataan al-Ghazali:

Pendidikan tidak hanya terbatas pada pengajaran semata. Si penanggung jawab berkewajiban mengawasi anak dari hal sekecil dan sedini mungkin. Ia jangan sampai menyerahkan anak yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk diasuh dan disusui kecuali oleh perempuan yang baik, agamis, dan hanya memakan sesuatu yang halal….”

Beliau juga menyampaikan:

…pendidikan itu mirip seperti pekerjaan seorang petani yang menyiangi duri dan rerumputan agar tanamannya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.”

Melihat luasnya cakupan pendidikan islami maka kita akan disadarkan bahwa yang berperan sebagai pendidik yang sebenarnya adalah kedua orang tua dan keluarga. Pembentukan pribadi yang berkarakter dengan konsep pendidikan islami lahir dari keluarga.

Karakter anak terbentuk semenjak dini, bukan sebuah proses yang tiba-tiba. Bukan! Ia adalah proses sejak dalam kandungan ibu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa karakter anak terbentuk sejak pemilihan siapa ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, konsep pendidikan islami sangat menekankan pentingnya pendidikan usia dini yang mengajarkan kepada anak beberapa hal mendasar terkait akidah dan akhlak.

1. Mendidik Anak untuk Bersyukur

Mensyukuri segala karunia yang Allah berikan dimulai dari keteladanan kedua orang tuanya. Hal pertama dan senantiasa harus ditanamkan adalah kesyukuran atas nikmat iman dan Islam. Karena, jika ruh syukur ini sudah dimiliki, apapun bentuk karunia-Nya akan selalu bermuara pada hati yang ridha.

Hal yang tak boleh diabaikan adalah kesadaran anak bahwa keberadaannya juga sebagai wujud karunia yang harus disyukuri sehingga ia bisa diterima apa adanya dalam lingkungan keluarga.

2. Mengajarkan Tauhid yang Benar

Tauhid adalah ruh dari pendidikan islami. Jika tauhid anak tidak dikuatkan sejak kecil, akan berpengaruh pada usia remajanya dan akan dikhawatirkan berakibat pada syirik, sementara dosa syrik tidak akan diampuni Tuhan. Allah berfirman dalam Alquran,

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar, “(Q.S. An-Nisa:48)

3. Berakhlak baik

Mengajarkan anak mengenai akhlak baik terhadap kedua orang tuanya penting untuk membangun karakter anak. Ajarkan ia berlaku baik bahkan ketika harus berbeda pendapat serta berlemah lembut ketika berbicara dan bersikap. Namun demikian, ketika masalah akidah dan ketaatan kepada Allah Swt. tetaplah tak dapat ditawar-tawar. Ketaatan kepada makhluk, meskipun itu pada ibu dan bapak, tak boleh mengalahkan ketaatan pada Allah Swt.

Akhlak baik juga ditanamkan kepada orang lain. Bahkan kesadaran untuk berlaku baik diiringi dengan pemahaman bahwa pengawasan Allah Swt. takkan luput meski amal baik maupun buruk itu hanya bernilai sebesar biji zarrah. Pendidikan islami menjadikan akhlak sebagai tolak ukur kematangan berakidah.

4. Mengajarkan Salat

Kewajiban salat tak boleh lalai untuk diperintahkan kepada anak. Tentu perintah itu sendiri bukan sekadar menyuruh melainkan telah ada keteledanan dan upaya sadar disertai kesabaran dalam proses pemahaman kepada anak sehingga kewajiban salat menjadi sebuah kebutuhan anak seiring tumbuh kembangnya. Rasulullah bersabda,

Suruhlah anak-anakmu halat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka (putra-putri),” (H.R. Abu Dawud).

Betapa menyuruh pun perlu proses. Sebab, sebelum umur tujuh tahun, anak sudah diajari, diajak, dan dikenalkan hakikat salat. Bukan waktu yang sedikit untuk menjadikan anak siap untuk mendapatkan perintah. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan luar biasa dari orang tua. Sehingga, untuk urusan memukul atau memberi hukuman pun baru dianjurkan di usia 10 tahun. Pastinya pukulan dan hukuman yang diberikan harus tetap dalam koridor pendidikan islami.

5. Mengajarkan untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Ketika keluarga sudah mampu menjadi sentral bagi pendidikan islami maka dari keluarga juga anak dipersiapkan untuk bisa berinteaksi dengan anggota masyarakat dengan cara bertanggung jawab.

Suasana yang kondusif harus dibangun agar kebiasaan untuk saling mengingatkan terhadap kelalaian siapa pun dan mencegah terjadinya kemungkaran oleh siapa pun menjadi karakter dasar anak di kemudian hari.

Iklim ini bisa dibangun apabila orang tua mampu bersikap egaliter tanpa harus kehilangan kendali terhadap fungsinya sebagai pendidik. Karena pendidikan islami berlangsung di sepanjang waktu, dalam kehidupan sehari-hari.

6. Mengajarkan Rendah Hati

Menekankan kepada anak agar tidak bersikap sombong, berlaku lemah lembut, dan rendah hati. Meminta maaf jika salah, meminta ijin dan meminta tolong jika berkepentingan, serta mengucapkan terima kasih jika mendapatkan bantuan sekecil apa pun merupakan cara mendidik yang terbukti efektif untuk menumbuhkan karakter anak yang santun.

 

Pendidikan Islami Berdasarkan Asah, Asih, dan Asuh

Pendidikan usia dini yang merupakan basis pembentukan karakter anak yang bertanggungjawab terhadap kehidupannya. Untuk optimalisasi hasilnya, metode yang digunakan harus pas. Tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara memberikan konsep pendidikan yang bisa diadopsi dalam pendidikan islami, yakni konsep asah, asuh, dan asih.

1. Pola Asah

Pola pendidikan ini merawat dan mengasah kemampuan anak sehingga segenap potensi positifnya bisa muncul dan dapat dioptimalkan secara konsisten dan berkesinambungan. Usia emas anak (0 sampai dengan 6 tahun) merupakan masa yang diyakini bahwa 80% otak anak berkembang pesat.

2. Pola Asih

Pola ini menekankan hubungan batin antara anak dan orang tua serta keluarga yang harmonis. Ikatan batin yang tercipta berlandaskan pada rasa kasih sayang. Jika pola asih ini diterapkan dalam pendidikan islami secara tepat, akan menjadikan anak cerdas emosi. Karena kecerdasan emosi memegang peranan sangat penting bagi masa depan anak keberadaannya bisa memberi manfaat maksimal bagi masyarakat.

Memberikan pujian, penghargaan, dan tanggung jawab sesuai dengan usia dan kemampuan anak akan menstimulasi kematangan dan kecerdasan emosi anak.

3. Pola Asuh

Pendidikan islami menekankan pola ini dengan menitikberatkan pada asupan gizi, kelayakan sandang, dan tempat tinggal yang layak bagi anak. Memastikan bahwa makanan yang baik dan halal saja yang dikonsumsi anak serta fasilitas yang selaras dengan kaidah syari, yaitu tidak berlebihan dan bersahaja.

Kesinergisan pola asah, asih dan asuh akan menjadikan tumbuh kembang anak optimal, cerdas secara emosi, spiritual, sehat jasmani, dan rohani.

Apabila orangtua komitmen terhadap pendidikan islami bagi putra putrinya, maka akan terbentuk karakter anak yang kuat dan unik di setiap orangnya, karena masing-masing anak memiliki corak kepribadian yang berbeda. Namun, kuat dan uniknya karakter telah ter-shibghoh (terwarnai) dengan kesalehan pribadi yang mampu mensalehkan diri dan lingkungannya.

Wallahualam bissawab.

 

Mendidik Anak Agar Menjadi Sholeh Dengan Tanpa Marah

 

Ayah-bunda yang baik,

Selaras dengan tumbuh kembangnya, pada anak balita biasanya akan mulai terjadi perubahan-perubahan perilaku. Di antaranya adalah muncul sikap penolakan anak terhadap lingkungan sosialnya. Saat keakuan anak-anak ini mulai muncul, mereka mulai ingin membedakan dirinya dengan orang lain. Pada saat itu pula, si kecil mulai mencoba keinginannya sendiri. Perubahan-perubahan ini yang lantas dipersepsi oleh para orang tua bahwa anak  menjadi  mulai sulit diatur, bandel, maunya sendiri dan sebagainya, yang tidak jarang kemudian sering menimbulkan kerepotan dalam memperlakukan mereka. Kondisi demikian ini, Insya Allah akan mereda seiring dengan bertambahnya usia, berkembangnya kemampuan berpikir dan kemampuan lainnya.

 

Ayah-bunda yang baik,

Terkadang emosi kita memang akan ikut terpancing saat menghadapi anak yang “bandel”, suka bertingkah terutama kalau sedang ada tamu.  Menahan emosi (kemarahan) memang tidak mudah. Tapi sebagaimana tabiatnya, bahwa emosi adalah bagian dari naluri, maka saat keinginan untuk marah itu muncul tidak harus dipenuhi. Tapi bisa dialihkan atau ditunda (ditahan).  Anda harus bisa menakar dan memahami kadar emosi Anda sendiri, pada saat kapan dan situasi seperti apa biasanya muncul. Sehingga Anda akan lebih mudah untuk mengontrol atau mengendalikannya. Luapan kemarahan hanyak  akan berdampak buruk pada perkembangan perilaku anak. Bukankah anak balita banyak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar? Rasulullah juga telahmengajarkan bagaimana semestinya memperlakukan anak-anak. Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW menciumi Hasan bin Ali dan di dekatnya ada Al-Arqa’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka”. Rasulullah segera memandang kepadanya dan berkata: “Barang siapa tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi”. (HR. Bukhari)

 

Ayah-bunda yang baik,

Mengasuh dan mendidik anak memang tugas utama ibu, tapi diperlukan juga kerja sama untuk meringankan tugasnya. Sekali waktu ayah membantu atau mengambil alih pekerjaan rumah dan anak-anak dengan mengajak orang-orang terdekat yang bisa diminta bantuannya. Jika mempunyai anak  yang relatif lebih besar, dapat ditanamkan pengertian pada mereka untuk ikut membantu mengelola tugas rumah tangga sehari-hari. Ajarkan prinsip kerja sama dan tanggung jawab sejak dini pada anak, agar ia terbiasa bersikap mandiri, berinisiatif dan dapat diandalkan.

Kelelahan yang sangat juga terkadang bisa menimbulkan stres, sehingga Anda gampang sekali marah. Anak-anak pun tak luput menjadi sasaran kemarahan Anda. Lakukan pemilihan aktivitas dengan cermat. Apalagi Anda saat ini sedang hamil. Kelelahan, ketidakstabilan emosi akan berefek buruk pada bayi dalam kandungan.

 

Ayah-bunda yang baik,

Tingkatkan kesabaran anda dalam menghadapi anak-anak. Jika tidak dengan kesabaran, bagaimana mungkin akan sanggup menghadapi setiap masalah anak-anak dengan baik dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Sabar disertai dengan niatan ikhlas hanya semata-mata untuk menc
ari ridha Allah SWT
akan menjadi energi yang luar biasa. Maka, seberat apapun beban dan ujian yang diberikan lewat anak-anak, Insya Allah akan dapat dihadapi dengan ringan. Selain sabar, bertawakallah pada Allah SWT. Tak ada masalah yang tidak ada penyeselesaian. Begitu pula dengan persoalan anak-anak. Dan jangan lupa, berdoalah selalu minta bantuan Allah SWT dalam menyelesaikan masalah anak-anak. Kadang kita sudah berusaha optimal untuk memperlakukan dan memberikan yang terbaik. Tetapi sejatinya hanya Allah jualah yang membukakan mata, hati dan pikiran anak-anak kita untuk mau mengerti seperti yang kita inginkan.

Kisah Anak Sholeh (Uwais Al-Qorni)

 

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila… Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

 

Do’a Anak Sholeh

“Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. QS. Ibrahim  (14) : 41.

Ciri-ciri Anak Sholeh dan Sholehah Dalam Islam

Setiap orang pasti memiliki jawaban yang tersendiri mengenai jawaban akan pertanyaan tersebut. Namun saat ini, betapa banyak kita melihat perilaku anak yang jauh dari kata berbakti. Anak tidak mengakui orang tua, anak kasar pada orang tua, bahkan sampai ada anak yang tega membutuh kedua orang tuanya. Naudzubillah min dzalik. Tentu adik-adik tidak ingin seperti itu bukan.  Mau tahu ciri anak yang sholeh dan sholehah dalam Islam? Kalau mau, yuk mari disimak nasehat islami berikut ini, semoga dengan mengamalkan tips ini, kita semua menjadi orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabbal alamin.

Para Hafidz-hafidzoh cilik SDIT Anak Sholeh Praya saat acara Uji Publik Juz 30 Angkatan I.

Ciri-ciri anak sholeh & sholehah dalam Agama Islam:

1. Cinta kepada Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun dan tidak beribadah kepada selainNya seperti beribadah kepada Kuburan orang sholeh ,Matahari, Dewa-Dewi, Batu, Pohon-pohon besar, patung dan lain sebagainya. Ingat dosa syirik tidak akan terampuni sebelum taubatan nashuha.

2. Cinta Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabi utusan Allah dengan mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta percaya dengan risalah yang dibawanya yaitu hadits atau As-Sunnah. Genggam terus syariat islam ya, meski bagai menggenggam bara api. Ini merupakan sikap mental yang penting agar bisa menjadi anak sholeh dan sholehah.

3. Cinta Al-Qur’an, dengan selalu membacanya, menerapkan hukum-hukum yang terkandung di dalam Al Quran, kemudian senantiasa muroja’ah berusaha menghafalnya dan karena orang yang menjaganya akan mendapatkan syafaat atau pertolongan kelak di hari kiamat atau hari pembalasan.

4. Cinta kepada sahabat-sahabat Muhammad SAW yang turut membela dan memperjuangkan Islam disisi Rasulullah SAW dengan tidak membenci mereka ataupun mencaci mereka.

5. Cinta kepada Keluarga Rasulullah yang turut berjuang bersama Rasulullah Muhammad SAW menyebarkan Islam ke seluruh negeri dan cinta kepada orang-orang yang selalu mengikuti jalan Rasulullah SAW, termasuk juga para alim ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan ulama lain yang istiqomah dalam haq.

6. Mendakwahkan Islam, apapun profesi kita jangan lupakan berdakwah, selain pahalanya besar dakwah juga akan membuat agama Islam ini terus berkembang, terlebih lagi dakwah untuk menerapkan syariat Islam dalam kehidupan adik-adik. Ciri anak sholeh dan sholehah ini sangat penting, karena dakwah selain sebuah kewajiban juga merupakan salah satu cara penyebaran agama Islam.

7. Mengerjakan Sholat lima waktu dengan tidak sekalipun meninggalkannya serta mengerjakan sholat-sholat sunnah, bagi anak laki-laki berjama’ah di Masjid dan anak perempuan sholat di rumah mereka tepat pada waktunya.

8. Suka dengan masjid, karena masjid adalah rumah Allah dengan menjaga kebersihannya, tidak membuat keributan di dalamnya serta tidak bercanda atau tertawa ketika sholat karena cinta mereka kepada Allah dan menghargai rumah Allah.

9. Berbakti kepada kedua orang tua, dengan mematuhi perintahnya, tidak menyakiti hati mereka, selalu berbuat baik kepada mereka, berusaha menyenangkan hati orang tua dan tidak menyusahkan atau membandel terhadap keduanya.

10. Menyayangi saudara, adik-kakak, kakek-nenek, paman-bibi, tetangga dan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Ingat kita bagaikan satu tubuh, yang satu sakit yang lain ikut merasakan sakit.

11. Cinta dan sayang kepada fakir miskin, anak terlantar, anak yatim, dengan memberikan bantuan sesuai dengan keperluan mereka dan peduli serta tidak mencemooh atau mengolok-olok mereka sebab mereka adalah juga hamba Allah, menyumbang untuk anak yatim, mejenguk mereka saat sakit, baik di rumah sakit atau saat sudah dirumah dan berbagai aktivitas lain.

Untuk referensi tambahan mengenai ciri anak sholeh dan sholehah dalam Islam, agaknya kita perlu mentadaburi kembali surat Luqman dari ayat 12 sd 19. Luqman memang bukan nabi dan rasul, namun hikmah yang Allah karuniakan sungguh layak kita teladani.  Insyaa Allah ada banyak pelajaran mendidik anak islami dari sana.

Terjemah Surat Luqman Ayat 12-13

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku!Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Terjemah Surat Luqman Ayat 14-15

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Terjemah Surat Luqman Ayat 16-19

(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahateliti.

Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Tak ada kata-kata yang lebih berarti setelah membaca artikel ini selain ACTION. Yuk segera berbenah diri, mumpung masih ada waktu di dunia ini. Semoga para orang tua, ayah, ibu dan adik-adik bisa mengambil pelajaran dari ciri-ciri anak sholeh dan sholehah dalam Islam ini ya. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka ya. Aamin.