Penyelamat Orang Tua di Neraka Adalah Do’a Anak-Anak Yang Sholeh

Nabi Musa As. adalah satu-satunya Nabi yang bisa berbicara terus dengan Allah SWT. Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa As. akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah beliau akan berbicara dengan Allah.

Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa bertanya kepada Allah. “Ya Allah, siapakah orang di surga nanti yang akan bertetangga denganku?”.

Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya.

Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikuti tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berhasil bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu dibawanya dengan teliti. Nabi Musa terkejut melihatnya.

Apa apa ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.

Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian diantar semula ke dalam kamar. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya diantar lagi semula ke kamar.

Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. “Wahai saudara! Apa agamamu?”. “Aku agama Tauhid”, jawab pemuda itu yaitu agama Islam. “Terus, mengapa kamu memelihara babi? Kita tidak boleh berbuat begitu.” Kata Nabi Musa.

“Wahai tuan hamba”, kata pemuda itu. “Sebenarnya kedua babi itu adalah Ibu-bapak kandungku. Oleh karena mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukar rupa mereka menjadi babi yang jelek rupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajibanku sebagai anak. Setiap hari aku berbakti kepada kedua Ibu-bapakku sepertimana yang tuan lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menjadi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.” sambungnya. “Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia seperti semula, tetapi Allah masih belum mengabulkan.”, tambah pemuda itu lagi.

Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. ‘Wahai Musa, inilah orang yang akan bertetangga dengan kamu di Surga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua Ibu-bapaknya. Ibu-bapaknya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak yang soleh disisi Kami.”

Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : “Oleh karena dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua Ibu-bapaknya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam surga.”

Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa Ibu-bapak yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke surga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada Ibu-bapaknya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan Ibu-bapak kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.

Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua Ibu-bapak kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.

Walau banyak sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah SWT. supaya kedua Ibu-bapak kita diampuni Allah SWT.

Doa anak yang soleh akan membantu kedua Ibu-bapaknya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para Ibu-bapak kita di alam kubur.

 

Anak-anak Sholeh SDIT Anak Sholeh Praya

Matematika Anak Sholeh

UMAT ISLAM WAJIB MENGUASAI MATEMATIKA

 

  • Karl Friedrich Gauss :

Matematika adalah ratunya ilmu, Aritmetika adalah ratunya Matematika.

  • Malcolm X :

“Matematika adalah hidup, dan hidup adalah Matematika. ”

Dalam kehidupan sehari-hari di masa kini, hampir tidak ada bidang yang tidak menggunakan Matematika. Bahkan dalam praktik keagamaan sekalipun, Umat Islam sudah dikenalkan dan dituntut untuk memahami Matematika. Dalam ibadah Shalatnya, Umat Islam sudah dikenalkan dengan konsep Matematika misalnya, 5 waktu Shalat wajib, 17 rakaat, shalat jama’ah dengan pahala 27 derajat. Pun demikian dengan faraidh yang hukumnya fardhu kifayah, minimal satu dari setiap mukmin yang tinggal di sebuah tempat (mukim) wajib menguasai ilmu tersebut, dan tentu saja ilmu faraidh yang menggunakan konsep bilangan pecahan tersebut membutuhkan matematika sebagai pemecahan masalahnya. Oleh karena itu, Umat Islam dituntut untuk memahami konsep bilangan pecahan dan operasinya.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup Umat Islampun banyak mengenalkan konsep bilangan melalui nomor surat, jumlah Ayat dan melalui kandungan isinya dan masih banyak lagi konten ibadah yang memiliki konsep Matematika di dalamnya. Namun fakta yang ada masih banyak Umat Islam bersikap cuek terhadap urgensi dalam mempelajari Matematika.

Umat Islam harus mengetahui bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dengan Matematika, Allah adalah Ahli hitung (Matematika) yang Maha Cepat dalam menghitung, Al-Qur’anpun banyak berbicara tentang Matematika, Nabi Muhammad juga bisa Matematika bahkan Islam pada zaman pertengahan pernah jaya karena kemajuan ilmu dalam bidang Matematika dan Filsafatnya. Maka, sekarang Umat Islampun harusnya mau mempelajari dan menguasai ilmu Matematika.

 

ALLAH MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA DENGAN MATEMATIKA

  • Al-Furqan, Ayat 2 :

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Artinya :

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”

Jika kita memperhatikan tata surya kita, maka kita akan menemukan banyak konsep Matematika di dalamnya. Matahari, Bumi, Bulan serta planet-planet lainnya berbentuk Bola, perhatikan juga lintasan bumi yang mengelilingi Matahari, serta lintasan-lintasan planet lainnya yang beredar dengan bentuknya yang Ellips dan begitu teraturnya sehingga menghasilkan periode evolusi yang sesuai seakan-akan mereka diukur dan diatur sebegitu rapinya.

Pada sekitar tahun 1200 Masehi, seorang ilmuwan besar bernama Galileo Galillei pernah mengatakan “mathematics is the language with wich God created the universe”, matematika adalah bahasa yang yang digunakan oleh Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Pun demikian dengan seorang ilmuwan besar pencetus teori Big Bang, Stephen Hawking mengatakan hal yang senada dengan Galileo, yaitu “Tuhanlah yang menciptakan alam semesta dengan bahasa itu (bahasa matematika)”. Pernyataan-pernyataan tersebut keluar setelah mereka benar-benar mentadabburi alam semesta ini pada titik puncak (klimaks) terhadap ilmu mereka.

Begitu  juga dengan pernyataan dari ilmuwan hebat yang pernah ada di Abad modern ini, Albert Einstein setelah mengamati dan menemukan keteraturan, kecermatan, kerapian dan ketelitian aturan-aturan atau hukum-hukum dalam alam semesta mengatakan bahwa “Tuhan tidak sedang bermain dadu”. Tuhan tidak sedang main-main, tidak sedang melakukan percobaan dalam menciptakan alam semesta ini. Ungkapan Einstein ini sudah tersirat dengan jelas dalam Al-Qur’an jauh sekitar 1200 tahun sebelumnya.

  • Al-Anbiya, Ayat 16 :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

Artinya :

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.

 

  • Ad-Dukhan, Ayat 38 :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

Artinya :

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.

 

ALLAH, SANG AHLI MATEMATIKA

 

  • An-Nur, Ayat 39 :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya :

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”.

 

  • Ali-Imran, Ayat 199 :

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya :

“Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.”

 

  • Al-Baqarah, Ayat 202 :

أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya :

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

 

  • Ar-Ra’ad, Ayat 41 :

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya :

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya.”

 

Matematika adalah ilmu menghitung (al-hisab), dalam urusan hitung-menghitung Allahlah ahlinya. Allah SWTsangat cepat dalam perhitungan-Nya sebagaimana yang telah disebutkan pada ayat-ayat-Nya di atas. Disebutkan bahwa untuk urusan menghitung Allah adalah yang paling teliti dan cepat. Lalu, siapa yang dapat menghitung dengan cepat kalau bukan ahli matematika? Siapa yang dapat menentukan ukuran-ukuran dan hukum-hukum jagad raya dengan begitu telitinya kalau bukan ahli matematika? Jawabannya hanya satu “Allah SWT.”

Allah SWT adalah serba maha tak terkecuali dalam hal menghitung (matematika), lalu mengapa umat Islam terkesan banyak yang phobia dengan matematika. Bagaimana kita bias lebih yakin kepada Islam jika matematika sebagai bahasa yang digunakan oleh Allah untuk menciptakan alam semesta ini tidak kita pelajari sebaik mungkin, oleh karena itu umat Islam wajib menguasai matematika.

 

MATEMATIKA DI DALAM AL-QUR’AN

  • Al-Qamar Ayat 49 :

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَر

Artinya :

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut Qadr (ukuran)”.

 

Qadr secara bahasa matematik dapat diartikan sebagai aturan, rumus atau formula. Jadi, menurut ayat tersebut segala sesuatu di alam semesta ini ada aturannya, ada rumusnya dan ada formulanya yang sangat begitu rapi dan seimbangnya.

 

  • Al-Mulk Ayat 3 :

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

Artinya :

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?

 

Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang di dalamnya juga banyak terdapat materi Matematikanya. Al-Qur’an berbicara tentang konsep bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran serta statistika.

Dalam Al-Qur’an disebutkan 30 bilangan asli dan 8 bilangan pecahan. Al-Qur’an berbicara aljabar, yakni relasi dan operasi bilangan, relasi bilangan meliputi relasi lebih dari (fauqaatau aktsara), kurang dari (adna) dan lebih dari sama dengan. Operasi bilangan dalam Al-Qur’an meliputi penjumlahan, pengurangan dan pembagian, operasi perkalian disebutkan secara tersirat sebagai penjumlahan berulang. Al-Qur’an berbicara mengenai geometri dan pengukuran, yakni mengenai ukuran waktu, panjang, luas, massa dan kecepatan. Al-Qur’an juga berbicara mengenai statistika, yakni mengenai pengumpulan data, pengolahan data dan penarikan kesimpulan. Amal semua manusia dicatat dan dikumpulkan dalam database yang super canggih yang bernama lauh mahfudz, lalu diolah melalui neraca timbangan yang disebut mizan, dan kemudian disimpulkan apakah masuk surge dan neraka.

Selain itu ada indikasi bahwa matematika digunakan oleh Allah SWT untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an. Keajaiban Al-Qur’an dari sisi matematika telah banyak diteliti oleh matematikawan Muslim moderen, misalnya Rashad Khalifa yang menemukan keajaiban bilangan 19 pada Tahun 1975-an dan Abd Da’im al-kahil yang menemukan keajaiban bilangan 7. Abah Salma Alif Sampayya mencoba melihat keseimbangan matematika dalam Al-Qur’an. Iskandar Soemabrata mencoba menganalisis Al-Qur’an secara numerik. Abdurrazaq Naufal menganalisis keseimbangan statistika kata-kata dalam Al-Qur’an. Fahmi Basya yang mencoba memahami Al-Qur’an dengan simbol-simbol. Serta masih banyak lagi kajian mengenai komposisi matematika dalam Al-Qur’an yang tentunya memerlukan pemahaman yang memadai tentang matematika dan Al-Qur’an itu sendiri.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah jika kitab sucinya sendiri (Al-Qur’an) banyak berbicara Matematika sedemikian luasnya, mengapa umat Islam justeru seakan-akan membenci Matematika? Bagaimanakah umat Islam dapat memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dengan sempurna (khususnya tentang faraidh)kalau tidak memahami Matematika.

 

NABI MUHAMMADPUN BISA MATEMATIKA

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang dikenal dengan sifat-sifat Shiddiq (terpercaya), amanah (amanat), tabligh (menyampaikan) dan fathanah (cerdas). Kecerdasan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW meliputi berbagai macam aspek seperti kepemimpinan (leadership), manajerial dan tak terkecuali kecerdasan matematis sekalipun pada zaman beliau tidak pernah di ajarkan matematika secara formal.

Sebagai salah satu contoh bahwa Rasulullah bias matematika adalah dengan adanya pernyataan beliau pada hadistnya yang berbunyi “Sholat yang dicintai Allah adalah shalat Nabi Daud. Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud. Dia tidur setengah malam dan bangun sholat sepertiga mala, kemudian tidur pada pada seperenam malamnya. Dia puasa sehari dan tidak puasa sehari”.

Coba kita analisa hadis tersebut, semalam itu mempunyai satuan satu, maka Rasulullah telah menyiratkan, 1/2 + 1/3 + 1/6 = 1. Artinya, Rasulullah telah bisa memahami konsep operasi (penjumlahan) pecahan pada zamannya dengan tepat.

Begitu juga dengan hadis beliau yang menyatakan “Tidak ada wadah yang dipenuhkan oleh anak Adam (manusia) yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Memadailah untuk manusia itu, beberapa suap kecil-kecil yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Kalau memang mesti berbuat (lebih dari itu), maka (isilah perut itu) sepertiganya untuk makanan, sepertiganya untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya”. (1/3+1/3+1/3 =1).

SUMBANGAN MATEMATIKAWAN MUSLIM UNTUK DUNIA

  • JJ O’conner dan EF Robertson (MacTutor History of Matematics) :

Kami (barat) berutang  terhadap matematia Islam”.

Matematika adalah warisan peradaban Islam yang sangat penting, disamping kedokteran, astronomi, oftik, tekhnologi mesin, sejarah dan ilmu-ilmu keagamaan, yang justru dizaman modern kini umat Islam ketinggalan, memang suatu ironi.

Matematika di era kejayaan peradaban Islam masa lampau merupakan kajian yang sangat penting. Hampir semua pemikir besar tempo dulu memiliki basic yang sangat kuat dalam bidang ini. Bahkan penemuan-penemuan dalam bidang ini sangat mengagumkan.Tetapi seiring waktu, dan seiring dengan penurunan peradaban Islam, maka peminat kajian ilmu matematika sangat jarang, dan umat terjebak pada dogmatisme tahayulisme, khurafat, dan kepercayaan-kepercayaan bangsa yang tertinggal, yaitu dogmatisme yang tidak berdasar ilmu, mengikuti tradisi-tradisi nenek moyang yang tidak berdasar, yang terjajah selama ratusan tahun.Ahli matematika dalam peradaban islam biasanya juga ahli dalam ilmu-ilmu lainnya, termasuk ilmu keagamaan. Dan biasanya ahli matematika dalam peradaban islam juga merupakan ahli dalam astronomi, karena itu astronomi dan matematika merupakan kajian dan profesi yang menyatu. Karena itu biasanya ahli matematika adalah ahli dalam astronomi juga.Diantara intelektual yang berpengaruh dalam bidang ini (matematika) dalam peradaban islam klasik, antara lain:

  1. Al Khwarizmi:

Perintis matematika muslim dan orang yang sangat pantas disebut sebagai bapak aljabar modern. Nama aslinya adalah Muhammad ibn Musa al Khwarizmi. Ia berasal dari Khwarizm (Khiva). Kadang orang keliru dalam menafsirkan suatu hasil hasil karya peradaban modern, yang selalu dianggap berasal dari barat. Jika kita menelusuri kata Aljabar itu berasal dari karya (buku tulisan karya) Al Khwarizmi yang bernama Hisab al jabir wal mukabalah (yang berarti pengutuhan kembali dan perbandingan atau yang kerennya dalam istilah sekarang Kalkulasi integral & persamaan).

Bahkan istilah Alghorisme yang berarti sistem persepuluhan , merupakan ucapan orang barat terhadap nama Alkhwarizmi, karena alkwarizmi dianggap sebagai penemu dan pengembang sistem persepuluhan, dan dia dianggap sebagai penemu angka nol.

Salah satu karya alkhwarizmi yang terpenting adalah dialah yang menciptakan sistem aljabar. Penemuannya terhadap simbol-simbol bilangan 1 sampai dengan 9, dan angka nol (yang kemudian disebut sistem alghorisme) mampu memecahkan kesulitan-kesulitan simbolisasi yang masih menggunakan angka romawi. Suatu misal, jika hanya untuk bilangan angka 8, dalam angka romawi sama dengan VIII, jika angka 38 maka angka romawinya XXXVIII, maka orang akan kesulitan menggunakan angka romawi jika sudah jutaan.

Matematika yang dikembangkan dibarat sebelumnya adalah matematika Yunani yang kemudian dikembangkan oleh Romawi. Matematika Yunani adalah matematika murni, matematika untuk matematika, yang steril terhadap keperluan. Dalam penulisan bilangan mereka menggunakan huruf, dan tiap huruf melambangkan bilangan dan masih belum mengenal bilangan nol. Jadi matematika Yunani bersifat deduktif, penekanannya dilakukan dengan pembuktian yang bertingkat-tingkat, dimulai dari aksioma, postulat dan teorema.

  1. Abu Wafa al Bawzajani (w. 998 M)

Salah seorang ahli matematika muslim terbesar.. Ia dikenal sebagai ahli astronomi dan pengembang trigonometri (ilmu ukur sudut), dan orang yang pertama yang mengajukan beberapa rumus penting dalam trigonometri. Salah satu rumus yang didedikasikan kepadanya adalah Cos C= Cos a.cos b.

  1. Abu Kamil Syuja (abad 10 M)

Salah seorang ahli matematika muslim terbesar di abad pertengahan. Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupannya, tetapi ia hidup setelah era Al Khwarizmi. Melalui Leonard dari Pisa dan pengikut-pengikutnya, ia telah memberi pengaruh besar terhadap perkembangan aljabar dan geometri di Eropa.

  1. Al Jauhary (abad 9 M)
    Seorang ahli matematika pada abad ke-9 M, seorang ahli geometer yang bekerja di Bayt al Hikmah (House of Wisdom), suatu lembaga ilmu pengetahuan yang dibangun Khalifah Al Ma’mun dari dinasti Abbasiyah di baghdad.
  1. Al Khuyandi ( w. 390 H/ 1000 M)

Seorang ahli astronomi dan matematika, terutama geometri. Ia dikenal sebagai ahli kontruksi asturlab. Ia juga termasuk penemu handal sinus yang diistilahkan kaidah astronomis.
Dalam bidang geometri perhatiannya mengarah pada resolusi atau penggunaan persamaan berpangkat tiga.
Albiruni saintis besar muslim menyanjung Al Khuyandi sebagai cendekiawan ahwaz Zamanihi (tiada bandinganya dizamannya). Sedang Al Thusi menegaskan bahwa Abu Wahfa, Ibn Irak dan al Khuyandi merupakan 3 penulis besar ang memiliki peran besar dalam penemuan kaidah sinus atau kaidah astronomis.
Teori matematika Al Khuyandi mengilhami teori Fermat (Fermat’s last theorm) yang dilontarkan Piere de Fermat pakar matematika asal perancis 600 tahun kemudian (w. 1665 M), suatu teori yang berupa teka-teki matematika yang pernah dilombakan dengan hadiah ratusan juta bagi yang sanggup membuktikannya.

  1. Khusiyar Ibn Laban (awal abad 11 M)

Seorang ahli matematika dan astronomi asal Persia, mahaguru kalkulus dan pengilham revolusi komputansi. karya andalannya diabadikan dalam 2 jiz, yaitu Jiz al Jami’ dan Jiz al Baligh, dan yang lainnya berjudul Usul Hisab al Hind, sebuah risalah mengenai aritmetika.
Kitab ushul Hisab al Hind, merupakan karya unggulannya yang memuat deskripsi pertama tentang perhitungan model India (Indian System of Calculation) , yaitu sistem numerasi berdasarkan posisi, yang artinya bahwa nilai atau harga angka-angkanya tergantung pada tempat atau posisinya dalam suatu bilangan. Sistem inilah yang kemudian mengilhami revolusi dalam hal cara atau metode komputasi yang digunakan dikawasan timur.

  1. Almajriti (w. 1007 M)

Seorang saintis asal Andalusia yang paling menonjol dizamannya, yang banyak memperkenalkan pengkajian sains, terutama kimia dan matematika. Ia banyak menulis tentang aritmetika dagang dengan menerapkan komputasi, geometri dan aljabar pada masalah-masalah penjualan, hitung dagang dan perpajakan. Ia juga banyak menulis tentang pemecahan kebekuan matematika.

  1. Al Karaji (w.410 H/1019 M)

Pakar matematika asal Persia , ia menulis tentang teori pencabutan akar atau kalkulus mental. Karyanya banyak sekali tentang sains, diantaranya berjudul Al Badi’ fi al Hisab, dalam buku ini ia menulis secara rinci untuk pertama kalinya teori pencabutan akar kuadrat dari sebuah polinomial dengan suatu bilangan yang tidak diketahui.
Sedang dalam bukunya yang berjudul Al Kafi’ fi al hisab banyak membicarakan proses-proses kalkulus mental yang disebutnya Al Hawa’i.

  1. Abu Nasr Mansur (w.1039 M)

Seorang ahli matematika asal persia ang diakini sebagai salah seorang penemu hukum sinus. Ia merupakan murid adri Abu Wafa’ dan guru dari ilmuwan besar, Al Biruni.
Albiruni menyebut Abu Nash mansur sebagai penemu beberapa bukti matematika.

  1. Al Khazin (abad 4 H/10 M)

Seorang ahli matematika dan astronom asal Khurasan yang hidup pada abad ke 4 H/ 10 M. Ia banyak menulis matematika dan astronomi. Ia adalah orang yang menawarkan konsep ang berbeda dengan Ptolomeus tentang peredaran matahari dan bumi. Ia mengkritik ptolomeus yang dinilainya gagal mengamati beberapa perubahan diameter matahari yang tampak sepanjang tahun (on the course of the years).

  1. Aljayani (abad 11 M)

Seorang penulis dan ahli matematika asal Andalusia (Spanyol Islam). Ia menulis komentar penting terhadap buku Element karya Euclid dan ia juga menulis karyanya dalam trigonometri speric (sperical trigonometry).

  1. Al Halili (abad 8 H/ 14 M)

Seorang pakar matematika dan astronomi. Ia banyak menghasilkan karya matematika dan astronomi ang berbobot tinggi. Ia berasal dari damaskus yang hidup pada abad ke 14 Masehi. Ia menjadi masyhur karena kemampuannya dalam menentukan arah kiblat dengan menyajikan garis-garis bujur dan garis-garis lintangnya dengan bantuan perhitungan rumit matematika. Tabel-tabel kiblatnya merupakan tabel trigonometrik canggih pertama. Ia berhasil mengkonfilasi sebuah tabel kiblat yang distandarkan pada sebuah rumusan canggih dan akurat. Hal ini menggambarkan kompetensi dan ketinggian otorotas kecendikiawannya dalam aljabar fungsi dan tekhnik-tekhnik komputansi.

  1. Al Kalasadi (abad 9 H/ 15 M)

Seorang pakar fiqih (hukum) dan juga pakar matematika yang inovatif asal Andalusia (Spanyol Islam), pencipta notasi pecahan modern. Komentarnya terhadap Takhlis Ibn Al Banna memuat suatu rumusan tingkat tinggi untuk memperoleh akar kuadrat dengan kecermatan dan ketepatan yang nyaris sempurna.
Dalam notasi pecahan, dialah orang pertama ang menggunakan simbol-simbol seperti yang digunakan kini secara luas.

  1. Al Qushyi (abad 15 M)

Seorang saintis, ahli astronomi dan matematika. Ia lahir di Samarkand dan meninggal di Istambul. Ia menggantikan Qadi Zade ‘ Rumi sebagai direktur observatorium Samarkan yang didirikan oleh Ulugh Beg. Ia juga kemudian menjadi profesor dibidang sains di perguruan Aya shofia.

Dengan menukir ke masa keemasan islam pada masa yang silam, sejenak tentu kita bangga mengetahui bahwa segala macam ilmu yang ada pada kita saat sekarang ini adalah berkat jasa-jasa ilmuwan muslim dunia yang sudah hampir seribu tahun yang lalu, ketika umat muslim adalah pembawa obor pengetahuan pada zaman kegelapan. Mereka menciptakan peradaban Islam, didorong oleh penelitian dan penemuan ilmiah, yang membuat bagian dunia lainnya iri selama berabad-abad.

Dalam kata-kata Carli Fiorina, seorang CEO Hewlett Packard yang visioner dan berbakat tinggi, “Adalah para arsitek yang mendesign bangunan-bangunan yang mampu melawan gravitasi. Adalah para matematikawan yang menciptakan aljabar dan algoritma yang dengannya komputer dan enkripsi data dapat tercipta. Adalah para dokter yang memeriksa tubuh manusia, dan menemukan obat baru untuk penyakit. Adalah para astronom yang melihat ke langit, memberi nama bintang-bintang, dan membuka jalan bagi perjalanan dan eksplorasi antariksa. Adalah para sastrawan yang menciptakan ribuan kisah; kisah-kisah perjuangan, percintaan dan keajaiban. Ketika negeri lain takut akan gagasan-gagasan, peradaban ini berkembang pesat dengannya dan membuat mereka penuh energi. Ketika ilmu pengetahuan terancam dihapus akibat penyensoran oleh peradaban sebelumnya, peradaban ini menjaga ilmu pengetahuan tetap hidup, dan menyebarkannya kepada peradaban lain. Tatkala peradaban barat modern sedang berbagi pengetahuan ini, peradaban yang sedang saya bicarakan ini adalah dunia Islam bermula pada tahun 800 hingga 1600, yang termasuk di dalamnya Dinasti Ottoman dan kota Baghdad, Damaskus dan Kairo, dan penguasa agung seperti Sulaiman yang Bijak. Walaupun kita sering kali tidak menyadari hutang budi kita kepada peradaban ini, sumbangsihnya merupakan bagian dasar dari kebudayaan kita. Teknologi industri tidak akan pernah hadir tanpa kontribusi para matematikawan arab.”

Sebenarnya, sangatlah sulit untuk mencari bidang ilmu pengetahuan yang tidak berhutang budi kepada para pionir ini. Di bawah ini adalah daftar singkat, tanpa bermaksud menyatakannya sebagai yang terlengkap, para ilmuwan muslim dari abad 8 hingga abad 14.

701 (Meninggal) * Khalid Ibn Yazeed * Ilmuwan kimia
721-803 * Jabir Ibn Haiyan * Ilmuwan kimia (Seorang ilmuwan kimia muslim populer)
740 * Al-Asma’i * Ahli ilmu hewan, ahli tumbuh-tumbuhan, ahli pertanian
780 * Al-Khwarizmi (Algorizm) * Matematika (Aljabar, Kalkulus), Astronomi

Kitab al-Hayawan. Sebuah kitab berisi ensklopedia berbagai jenis binatang karya ahli ilmu hewan muslim al-Jahiz. Pada kitab ini al-Jahiz memaparkan berbagai macam teori, salah satunya mengenai interaksi antara hewan dengan lingkungannya.

776-868 * Amr Ibn Bahr al-Jahiz * Ahli ilmu hewan
787 * Al Balkhi, Ja’far Ibn Muhammad (Albumasar) * Astronomi
796 (Meninggal) * Al-Fazari, Ibrahim Ibn Habib * Astronomi
800 * Ibn Ishaq Al-Kindi (Alkindus) * Kedokteran, Filsafat, Fisika, Optik
815 * Al-Dinawari, Abu Hanifa Ahmed Ibn Dawud * Matematika, Sastra
816 * Al Balkhi * Ilmu Bumi (Geography)
836 * Thabit Ibn Qurrah (Thebit) * Astronomi, Mekanik, Geometri, Anatomi
838-870 * Ali Ibn Rabban Al-Tabari * Kedokteran, Matematika
852 * Al Battani Abu Abdillah * Matematika, Astronomi, Insinyur
857 * Ibn Masawaih You’hanna * Kedokteran
858-929 * Abu Abdullah Al Battani (Albategnius) * Astronomi, Matematika
860 * Al-Farghani, Abu al-Abbas (Al-Fraganus) * Astronomy, Tehnik Sipil
864-930 * Al-Razi (Rhazes) * Kedokteran, Ilmu Kedokteran Mata, Ilmu Kimia
973 (Meninggal) * Al-Kindi * Fisika, Optik, Ilmu Logam, Ilmu Kelautan, Filsafat
888 (Meninggal) * Abbas Ibn Firnas * Mekanika, Ilmu Planet, Kristal Semu
900 (Meninggal) * Abu Hamed Al-Ustrulabi * Astronomi
903-986 * Al-Sufi (Azophi) * Astronomi
908 * Thabit Ibn Qurrah * Kedokteran, Insinyur
912 (Meninggal) * Al-Tamimi Muhammad Ibn Amyal (Attmimi) * Ilmu Kimia
923 (Meninggal) * Al-Nirizi, AlFadl Ibn Ahmed (Altibrizi) * Matematika, Astronomi
930 * Ibn Miskawayh, Ahmed Abu Ali * Kedokteran, Ilmu Kimia
932 * Ahmed Al-Tabari * Kedokteran
934 * Al-Istakhr II * Ilmu Bumi (Peta Bumi)
936-1013 * Abu Al-Qosim Al-Zahravi (Albucasis) * Ilmu Bedah, Kedokteran
940-997 * Abu Wafa Muhammad Al-Buzjani * Matematika, Astronomi, Geometri
943 * Ibn Hawqal * Ilmu Bumi (Peta Dunia)
950 * Al Majrett’ti Abu al-Qosim * Astronomi, Ilmu Kimia, Matematika
958 (Meninggal) * Abul Hasan Ali al-Mas’udi * Ilmu Bumi, Sejarah
960 (Meninggal) * Ibn Wahshiyh, Abu Bakar * Ilmu Kimia, Ilmu Tumbuh-tumbuhan
965-1040 * Ibn Al-Haitham (Alhazen) * Fisika, Optik, Matematika

973-1048 * Abu Rayhan Al-Biruni * Astronomy, Matematika, Sejarah, Sastra
976 * Ibn Abil Ashath * Kedokteran
980-1037 * Ibn Sina (Avicenna) * Kedokteran, Filsafat, Matematika, Astronomi
983 * Ikhwan A-Safa (Assafa) * (Kelompok Ilmuwan Muslim)
1001 * Ibn Wardi * Ilmu Bumi (Peta Dunia)
1008 (Meninggal) * Ibn Yunus * Astronomy, Matematika.
1019 * Al-Hasib Alkarji * Matematika
1029-1087 * Al-Zarqali (Arzachel) * Matematika, Astronomi, Syair
1044 * Omar Al-Khayyam * Matematika, Astronomi, Penyair
1060 (Meninggal) * Ali Ibn Ridwan Abu Hassan Ali * Kedokteran
1077 * Ibn Abi Sadia Abul Qasim * Kedokteran
1090-1161 – Ibn Zuhr (Avenzoar) * Ilmu Bedah, Kedokteran
1095 – Ibn Bajah, Mohammed Ibn Yahya (Avenpace) * Astronomi, Kedokteran
1097 – Ibn Al-Baitar Diauddin (Bitar) * Ilmu Tumbuh-Tumbuhan, Ilmu Kedokteran

1099 – Al-Idrisi (Dreses) * Ilmu Bumi (Geography), Ahli Ilmu Hewan, Peta Dunia (Peta Pertama)
1110-1185 – Ibn Tufayl, Abubacer Al-Qaysi * Filosofi, Kedokteran
1120 (Meninggal) – Al-Tuhra-ee, Al-Husain Ibn Ali *Ahli Kimia, Penyair
1128 – Ibn Rushd (Averroe’s) * Filosofi, Kedokteran, Astronomi
1135 – Ibn Maymun, Musa (Maimonides) * Kedokteran, Filosofi
1136 – 1206 – Al-Razaz Al-Jazari * Astronomi, Seni, Insinyur mekanik
1140 – Al-Badee Al-Ustralabi * Astronomi, Matematika
1155 (Meningal) – Abdel-al Rahman al Khazin *Astronomi
1162 – Al Baghdadi, Abdel-Lateef Muwaffaq * Kedokteran, Ahli Bumi (Geography)
1165 – Ibn A-Rumiyyah Abul’Abbas (Annabati) * Ahli Tumbuh-tumbuhan
1173 – Rasheed Al-Deen Al-Suri * Ahli Tumbuh-tumbuhan
1180 – Al-Samawal * Matematika
1184 – Al-Tifashi, Shihabud-Deen (Attifashi) *Ahli Logam, Ahli Batu-batuan
1201-1274 – Nasir Al-Din Al-Tusi * Astronomi, Non-Euclidean Geometri

1203 – Ibn Abi-Usaibi’ah, Muwaffaq Al-Din * Kedokteran
1204 (Meninggal) – Al-Bitruji (Alpetragius) * Astronomi
1213-1288 – Ibn Al-Nafis Damishqui * Astronomi
1236 – Kutb Aldeen Al-Shirazi * Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1248 (Meninggal) * Ibn Al-Baitar * Farmasi, Ahli Tumbuh-tumbuhan (Botany)
1258 – Ibn Al-Banna (Al Murrakishi), Azdi * Kedokteran, Matematika
1262 – Abu al-Fath Abd al-Rahman al-Khazini * Fisika, Astronomi
1273-1331 – Al-Fida (Abdulfeda) * Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1360 – Ibn Al-Shater Al Dimashqi * Astronomi, Matematika
1320 (Meninggal) – Al Farisi Kamalud-deen Abul-Hassan *Astronomy, Fisika
1341 (Meninggal) – Al Jildaki, Muhammad Ibn Aidamer * Ilmu Kimia
1351 – Ibn Al-Majdi, Abu Abbas Ibn Tanbugha * Matematika, Astronomi
1359 – Ibn Al-Magdi, Shihab Udden Ibn Tanbugha * Matematika, Astronomi

Dengan deretan sarjana muslim seperti itu, tidaklah sulit untuk menyetujui apa yang dikatakan George Sarton, ” Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang muslim. Matematikawan terbaik Abul Kamil dan Ibn Sina adalah muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik Al-Masudi adalah seorang muslim dan Al-Tabari ahli sejarah terbaik juga seorang muslim.

Sejarah sebelum Islam dipenuhi dengan perkiraan-perkiraan, desas-desus dan mitos-mitos. Adalah seorang ahli sejarah muslim yang pertama kali memperkenalkan metode sanad dan matan yang melacak keaslian dan keutuhan sebuah informasi langsung dari saksi mata. Menurut seorang ahli sejarah Bucla “Metode ini belumlah dipraktekkan oleh Eropa sebelum tahun 1597.” Metode lainnya: adalah penelitian sejarah bersumber dari ahli sejarah terkemuka Ibn Khaldun. Pengarang dari Kashfuz Zunun memberikan daftar 1300 buku-buku sejarah yang ditulis dalam bahasa Arab pada masa beberapa abad sejak munculnya Islam.

Sekarang lihatlah dunia kaum muslim. Kapankah anda terakhir kali mendengar seorang muslim memenangkan hadiah Nobel dalam bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran? Bagaimana dengan publikasi ilmiah? Sayangnya, anda tidak akan menemukan banyak nama kaum Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan makalah-makalah ilmiah. Apa yang kurang? Alasan apa yang kita miliki?

Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menanggapi pembangunan di wilayah Arab mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara menerjemahkan 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan, hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang diterjemahkan oleh sebuah negara kecil Yunani dalam setahunnya! (Spanyol menerjemahkan rata-rata 100,000 buku setiap tahunnya). Mengapa ada alergi atau keengganan untuk menerjemahkan ilmu yang asal-muasalnya berasal dari nenek moyang kita sendiri untuk mendapatkan kembali warisan terdahulu dengan menganalisa, mengumpulkan, menyempurnakan dan menyalurkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia.

 

Bukran Abu Sheikha (Guru Matematika SDIT Anak Sholeh Praya)

Pendidikan Islami Dalam Membentuk Karakter Anak Sholeh

Pendidikan Islami secara luas punya makna yang selaras dengan At-Tarbiyah, yakni sebuah proses pembelajaran yang akan menghasilkan kondisi yang lebih baik dari hari ke hari. Mengutip pernyataan al-Ghazali:

Pendidikan tidak hanya terbatas pada pengajaran semata. Si penanggung jawab berkewajiban mengawasi anak dari hal sekecil dan sedini mungkin. Ia jangan sampai menyerahkan anak yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk diasuh dan disusui kecuali oleh perempuan yang baik, agamis, dan hanya memakan sesuatu yang halal….”

Beliau juga menyampaikan:

…pendidikan itu mirip seperti pekerjaan seorang petani yang menyiangi duri dan rerumputan agar tanamannya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.”

Melihat luasnya cakupan pendidikan islami maka kita akan disadarkan bahwa yang berperan sebagai pendidik yang sebenarnya adalah kedua orang tua dan keluarga. Pembentukan pribadi yang berkarakter dengan konsep pendidikan islami lahir dari keluarga.

Karakter anak terbentuk semenjak dini, bukan sebuah proses yang tiba-tiba. Bukan! Ia adalah proses sejak dalam kandungan ibu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa karakter anak terbentuk sejak pemilihan siapa ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, konsep pendidikan islami sangat menekankan pentingnya pendidikan usia dini yang mengajarkan kepada anak beberapa hal mendasar terkait akidah dan akhlak.

1. Mendidik Anak untuk Bersyukur

Mensyukuri segala karunia yang Allah berikan dimulai dari keteladanan kedua orang tuanya. Hal pertama dan senantiasa harus ditanamkan adalah kesyukuran atas nikmat iman dan Islam. Karena, jika ruh syukur ini sudah dimiliki, apapun bentuk karunia-Nya akan selalu bermuara pada hati yang ridha.

Hal yang tak boleh diabaikan adalah kesadaran anak bahwa keberadaannya juga sebagai wujud karunia yang harus disyukuri sehingga ia bisa diterima apa adanya dalam lingkungan keluarga.

2. Mengajarkan Tauhid yang Benar

Tauhid adalah ruh dari pendidikan islami. Jika tauhid anak tidak dikuatkan sejak kecil, akan berpengaruh pada usia remajanya dan akan dikhawatirkan berakibat pada syirik, sementara dosa syrik tidak akan diampuni Tuhan. Allah berfirman dalam Alquran,

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar, “(Q.S. An-Nisa:48)

3. Berakhlak baik

Mengajarkan anak mengenai akhlak baik terhadap kedua orang tuanya penting untuk membangun karakter anak. Ajarkan ia berlaku baik bahkan ketika harus berbeda pendapat serta berlemah lembut ketika berbicara dan bersikap. Namun demikian, ketika masalah akidah dan ketaatan kepada Allah Swt. tetaplah tak dapat ditawar-tawar. Ketaatan kepada makhluk, meskipun itu pada ibu dan bapak, tak boleh mengalahkan ketaatan pada Allah Swt.

Akhlak baik juga ditanamkan kepada orang lain. Bahkan kesadaran untuk berlaku baik diiringi dengan pemahaman bahwa pengawasan Allah Swt. takkan luput meski amal baik maupun buruk itu hanya bernilai sebesar biji zarrah. Pendidikan islami menjadikan akhlak sebagai tolak ukur kematangan berakidah.

4. Mengajarkan Salat

Kewajiban salat tak boleh lalai untuk diperintahkan kepada anak. Tentu perintah itu sendiri bukan sekadar menyuruh melainkan telah ada keteledanan dan upaya sadar disertai kesabaran dalam proses pemahaman kepada anak sehingga kewajiban salat menjadi sebuah kebutuhan anak seiring tumbuh kembangnya. Rasulullah bersabda,

Suruhlah anak-anakmu halat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka (putra-putri),” (H.R. Abu Dawud).

Betapa menyuruh pun perlu proses. Sebab, sebelum umur tujuh tahun, anak sudah diajari, diajak, dan dikenalkan hakikat salat. Bukan waktu yang sedikit untuk menjadikan anak siap untuk mendapatkan perintah. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan luar biasa dari orang tua. Sehingga, untuk urusan memukul atau memberi hukuman pun baru dianjurkan di usia 10 tahun. Pastinya pukulan dan hukuman yang diberikan harus tetap dalam koridor pendidikan islami.

5. Mengajarkan untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Ketika keluarga sudah mampu menjadi sentral bagi pendidikan islami maka dari keluarga juga anak dipersiapkan untuk bisa berinteaksi dengan anggota masyarakat dengan cara bertanggung jawab.

Suasana yang kondusif harus dibangun agar kebiasaan untuk saling mengingatkan terhadap kelalaian siapa pun dan mencegah terjadinya kemungkaran oleh siapa pun menjadi karakter dasar anak di kemudian hari.

Iklim ini bisa dibangun apabila orang tua mampu bersikap egaliter tanpa harus kehilangan kendali terhadap fungsinya sebagai pendidik. Karena pendidikan islami berlangsung di sepanjang waktu, dalam kehidupan sehari-hari.

6. Mengajarkan Rendah Hati

Menekankan kepada anak agar tidak bersikap sombong, berlaku lemah lembut, dan rendah hati. Meminta maaf jika salah, meminta ijin dan meminta tolong jika berkepentingan, serta mengucapkan terima kasih jika mendapatkan bantuan sekecil apa pun merupakan cara mendidik yang terbukti efektif untuk menumbuhkan karakter anak yang santun.

 

Pendidikan Islami Berdasarkan Asah, Asih, dan Asuh

Pendidikan usia dini yang merupakan basis pembentukan karakter anak yang bertanggungjawab terhadap kehidupannya. Untuk optimalisasi hasilnya, metode yang digunakan harus pas. Tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara memberikan konsep pendidikan yang bisa diadopsi dalam pendidikan islami, yakni konsep asah, asuh, dan asih.

1. Pola Asah

Pola pendidikan ini merawat dan mengasah kemampuan anak sehingga segenap potensi positifnya bisa muncul dan dapat dioptimalkan secara konsisten dan berkesinambungan. Usia emas anak (0 sampai dengan 6 tahun) merupakan masa yang diyakini bahwa 80% otak anak berkembang pesat.

2. Pola Asih

Pola ini menekankan hubungan batin antara anak dan orang tua serta keluarga yang harmonis. Ikatan batin yang tercipta berlandaskan pada rasa kasih sayang. Jika pola asih ini diterapkan dalam pendidikan islami secara tepat, akan menjadikan anak cerdas emosi. Karena kecerdasan emosi memegang peranan sangat penting bagi masa depan anak keberadaannya bisa memberi manfaat maksimal bagi masyarakat.

Memberikan pujian, penghargaan, dan tanggung jawab sesuai dengan usia dan kemampuan anak akan menstimulasi kematangan dan kecerdasan emosi anak.

3. Pola Asuh

Pendidikan islami menekankan pola ini dengan menitikberatkan pada asupan gizi, kelayakan sandang, dan tempat tinggal yang layak bagi anak. Memastikan bahwa makanan yang baik dan halal saja yang dikonsumsi anak serta fasilitas yang selaras dengan kaidah syari, yaitu tidak berlebihan dan bersahaja.

Kesinergisan pola asah, asih dan asuh akan menjadikan tumbuh kembang anak optimal, cerdas secara emosi, spiritual, sehat jasmani, dan rohani.

Apabila orangtua komitmen terhadap pendidikan islami bagi putra putrinya, maka akan terbentuk karakter anak yang kuat dan unik di setiap orangnya, karena masing-masing anak memiliki corak kepribadian yang berbeda. Namun, kuat dan uniknya karakter telah ter-shibghoh (terwarnai) dengan kesalehan pribadi yang mampu mensalehkan diri dan lingkungannya.

Wallahualam bissawab.

 

Mendidik Anak Agar Menjadi Sholeh Dengan Tanpa Marah

 

Ayah-bunda yang baik,

Selaras dengan tumbuh kembangnya, pada anak balita biasanya akan mulai terjadi perubahan-perubahan perilaku. Di antaranya adalah muncul sikap penolakan anak terhadap lingkungan sosialnya. Saat keakuan anak-anak ini mulai muncul, mereka mulai ingin membedakan dirinya dengan orang lain. Pada saat itu pula, si kecil mulai mencoba keinginannya sendiri. Perubahan-perubahan ini yang lantas dipersepsi oleh para orang tua bahwa anak  menjadi  mulai sulit diatur, bandel, maunya sendiri dan sebagainya, yang tidak jarang kemudian sering menimbulkan kerepotan dalam memperlakukan mereka. Kondisi demikian ini, Insya Allah akan mereda seiring dengan bertambahnya usia, berkembangnya kemampuan berpikir dan kemampuan lainnya.

 

Ayah-bunda yang baik,

Terkadang emosi kita memang akan ikut terpancing saat menghadapi anak yang “bandel”, suka bertingkah terutama kalau sedang ada tamu.  Menahan emosi (kemarahan) memang tidak mudah. Tapi sebagaimana tabiatnya, bahwa emosi adalah bagian dari naluri, maka saat keinginan untuk marah itu muncul tidak harus dipenuhi. Tapi bisa dialihkan atau ditunda (ditahan).  Anda harus bisa menakar dan memahami kadar emosi Anda sendiri, pada saat kapan dan situasi seperti apa biasanya muncul. Sehingga Anda akan lebih mudah untuk mengontrol atau mengendalikannya. Luapan kemarahan hanyak  akan berdampak buruk pada perkembangan perilaku anak. Bukankah anak balita banyak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar? Rasulullah juga telahmengajarkan bagaimana semestinya memperlakukan anak-anak. Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW menciumi Hasan bin Ali dan di dekatnya ada Al-Arqa’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka”. Rasulullah segera memandang kepadanya dan berkata: “Barang siapa tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi”. (HR. Bukhari)

 

Ayah-bunda yang baik,

Mengasuh dan mendidik anak memang tugas utama ibu, tapi diperlukan juga kerja sama untuk meringankan tugasnya. Sekali waktu ayah membantu atau mengambil alih pekerjaan rumah dan anak-anak dengan mengajak orang-orang terdekat yang bisa diminta bantuannya. Jika mempunyai anak  yang relatif lebih besar, dapat ditanamkan pengertian pada mereka untuk ikut membantu mengelola tugas rumah tangga sehari-hari. Ajarkan prinsip kerja sama dan tanggung jawab sejak dini pada anak, agar ia terbiasa bersikap mandiri, berinisiatif dan dapat diandalkan.

Kelelahan yang sangat juga terkadang bisa menimbulkan stres, sehingga Anda gampang sekali marah. Anak-anak pun tak luput menjadi sasaran kemarahan Anda. Lakukan pemilihan aktivitas dengan cermat. Apalagi Anda saat ini sedang hamil. Kelelahan, ketidakstabilan emosi akan berefek buruk pada bayi dalam kandungan.

 

Ayah-bunda yang baik,

Tingkatkan kesabaran anda dalam menghadapi anak-anak. Jika tidak dengan kesabaran, bagaimana mungkin akan sanggup menghadapi setiap masalah anak-anak dengan baik dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Sabar disertai dengan niatan ikhlas hanya semata-mata untuk menc
ari ridha Allah SWT
akan menjadi energi yang luar biasa. Maka, seberat apapun beban dan ujian yang diberikan lewat anak-anak, Insya Allah akan dapat dihadapi dengan ringan. Selain sabar, bertawakallah pada Allah SWT. Tak ada masalah yang tidak ada penyeselesaian. Begitu pula dengan persoalan anak-anak. Dan jangan lupa, berdoalah selalu minta bantuan Allah SWT dalam menyelesaikan masalah anak-anak. Kadang kita sudah berusaha optimal untuk memperlakukan dan memberikan yang terbaik. Tetapi sejatinya hanya Allah jualah yang membukakan mata, hati dan pikiran anak-anak kita untuk mau mengerti seperti yang kita inginkan.

Kisah Anak Sholeh (Uwais Al-Qorni)

 

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila… Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

 

Do’a Anak Sholeh

“Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. QS. Ibrahim  (14) : 41.

Ciri-ciri Anak Sholeh dan Sholehah Dalam Islam

Setiap orang pasti memiliki jawaban yang tersendiri mengenai jawaban akan pertanyaan tersebut. Namun saat ini, betapa banyak kita melihat perilaku anak yang jauh dari kata berbakti. Anak tidak mengakui orang tua, anak kasar pada orang tua, bahkan sampai ada anak yang tega membutuh kedua orang tuanya. Naudzubillah min dzalik. Tentu adik-adik tidak ingin seperti itu bukan.  Mau tahu ciri anak yang sholeh dan sholehah dalam Islam? Kalau mau, yuk mari disimak nasehat islami berikut ini, semoga dengan mengamalkan tips ini, kita semua menjadi orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabbal alamin.

Para Hafidz-hafidzoh cilik SDIT Anak Sholeh Praya saat acara Uji Publik Juz 30 Angkatan I.

Ciri-ciri anak sholeh & sholehah dalam Agama Islam:

1. Cinta kepada Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun dan tidak beribadah kepada selainNya seperti beribadah kepada Kuburan orang sholeh ,Matahari, Dewa-Dewi, Batu, Pohon-pohon besar, patung dan lain sebagainya. Ingat dosa syirik tidak akan terampuni sebelum taubatan nashuha.

2. Cinta Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabi utusan Allah dengan mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta percaya dengan risalah yang dibawanya yaitu hadits atau As-Sunnah. Genggam terus syariat islam ya, meski bagai menggenggam bara api. Ini merupakan sikap mental yang penting agar bisa menjadi anak sholeh dan sholehah.

3. Cinta Al-Qur’an, dengan selalu membacanya, menerapkan hukum-hukum yang terkandung di dalam Al Quran, kemudian senantiasa muroja’ah berusaha menghafalnya dan karena orang yang menjaganya akan mendapatkan syafaat atau pertolongan kelak di hari kiamat atau hari pembalasan.

4. Cinta kepada sahabat-sahabat Muhammad SAW yang turut membela dan memperjuangkan Islam disisi Rasulullah SAW dengan tidak membenci mereka ataupun mencaci mereka.

5. Cinta kepada Keluarga Rasulullah yang turut berjuang bersama Rasulullah Muhammad SAW menyebarkan Islam ke seluruh negeri dan cinta kepada orang-orang yang selalu mengikuti jalan Rasulullah SAW, termasuk juga para alim ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan ulama lain yang istiqomah dalam haq.

6. Mendakwahkan Islam, apapun profesi kita jangan lupakan berdakwah, selain pahalanya besar dakwah juga akan membuat agama Islam ini terus berkembang, terlebih lagi dakwah untuk menerapkan syariat Islam dalam kehidupan adik-adik. Ciri anak sholeh dan sholehah ini sangat penting, karena dakwah selain sebuah kewajiban juga merupakan salah satu cara penyebaran agama Islam.

7. Mengerjakan Sholat lima waktu dengan tidak sekalipun meninggalkannya serta mengerjakan sholat-sholat sunnah, bagi anak laki-laki berjama’ah di Masjid dan anak perempuan sholat di rumah mereka tepat pada waktunya.

8. Suka dengan masjid, karena masjid adalah rumah Allah dengan menjaga kebersihannya, tidak membuat keributan di dalamnya serta tidak bercanda atau tertawa ketika sholat karena cinta mereka kepada Allah dan menghargai rumah Allah.

9. Berbakti kepada kedua orang tua, dengan mematuhi perintahnya, tidak menyakiti hati mereka, selalu berbuat baik kepada mereka, berusaha menyenangkan hati orang tua dan tidak menyusahkan atau membandel terhadap keduanya.

10. Menyayangi saudara, adik-kakak, kakek-nenek, paman-bibi, tetangga dan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Ingat kita bagaikan satu tubuh, yang satu sakit yang lain ikut merasakan sakit.

11. Cinta dan sayang kepada fakir miskin, anak terlantar, anak yatim, dengan memberikan bantuan sesuai dengan keperluan mereka dan peduli serta tidak mencemooh atau mengolok-olok mereka sebab mereka adalah juga hamba Allah, menyumbang untuk anak yatim, mejenguk mereka saat sakit, baik di rumah sakit atau saat sudah dirumah dan berbagai aktivitas lain.

Untuk referensi tambahan mengenai ciri anak sholeh dan sholehah dalam Islam, agaknya kita perlu mentadaburi kembali surat Luqman dari ayat 12 sd 19. Luqman memang bukan nabi dan rasul, namun hikmah yang Allah karuniakan sungguh layak kita teladani.  Insyaa Allah ada banyak pelajaran mendidik anak islami dari sana.

Terjemah Surat Luqman Ayat 12-13

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku!Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Terjemah Surat Luqman Ayat 14-15

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Terjemah Surat Luqman Ayat 16-19

(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahateliti.

Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Tak ada kata-kata yang lebih berarti setelah membaca artikel ini selain ACTION. Yuk segera berbenah diri, mumpung masih ada waktu di dunia ini. Semoga para orang tua, ayah, ibu dan adik-adik bisa mengambil pelajaran dari ciri-ciri anak sholeh dan sholehah dalam Islam ini ya. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka ya. Aamin.